
1. Masih Ada
Berkisah perjalanan seorang anggota dewan di tepatnya Jakarta.
Di antara keluh kesah warga tentang kotanya. Sampai dia nanti ada di
satu titik, masih adakah hatinya. Ketika di tangannya ada tas olahraga
berisi uang kontan satu milyar hasil bagi-bagi korupsi dan fakta seorang
anak kecil yang dipukuli karena menyolong sepotong tempe akibat lapar
2. Kabar Baik
Di
sebuah kantor polisi, seorang polisi muda sedang berhadapan dengan
laki-laki paruh baya yang masih nampak gagah. Mereka sedang mengisi
berkas BAP. Kasus penipuan laki-laki itu melibatkan banyak perempuan.
Soal arisan berantai. Laki-laki itu adalah ayah dari si polisi. Sudah
lima tahun lenyap. Ibunya masih terus berharap dan menunggu karena
cinta. Sementara laki-laki ini mengatakan kalau si polisi sekarang sudah
memiliki adik berumur 5 tahun yang hari ini berulang tahun. Si polisi
ragu. Ayahnya ini tukang kibul kelas kakap. Si polisi terbentur dilema.
Apakah dia akan memenjarakan ayahnya dengan meneruskan berkas itu atau
tidak. Siapa yang akan dia beri kabar baik? Ibunya atau adik tiri yang
masih belum tentu ada itu?
3. Hadiah
Seorang penulis sedang
sibuk ditelepon temannya untuk mengambil sebuah proyek. Menulis film
komedi seks kacangan. Si penulis memang sedang kronis kondisi
keuangannya. Rp. 50 ribu baru saja dipakai untuk memberi pulsa
elektronik yang belum juga masuk. Sementara sisa setengahnya untuk hidup
hari ini. Sang teman yang berniat membantu itu terus mendesak agar si
penulis menelepon langsung produsernya. Anak laki-lakinya 8 tahun
merengek ingin datang ke ulang tahun teman sebangkunya di dekat rumah.
Akhirnya mereka pergi ke mal terdekat, membeli kado versi palsu sandal
karet mahal dan pulang jalan kaki karena menghemat ongkos. Kertas kado
pun juga tak dibeli. Sampai di tempat, si penulis baru tahu kalau ini
pesta anak orang kaya.
Dia harus menerima tatapan sinis para orang
tua yang datang dengan kondisi wangi dan kinclong. Apakah yang akan
diputuskan oleh sang penulis, ketika pulsa elektroniknya masuk, setelah
melihat anaknya sangat senang kadonya diterima dengan baik oleh
sahabatnya?
4. Dalam Gelap
Lepas maghrib, mendadak satu area
di kawasan Jakarta mati lampu. Sepertinya terkena giliran pemadaman.
Pasangan suami istri muda pun terkena imbasnya. Mereka jadi harus saling
bicara satu sama lain. Sebab biasanya, kalau lampu menyala, mereka
sibuk sendiri-sendiri. Satunya baca novel, satunya nonton TV. Atau
kegiatannya lainnya. Masing-masing. Sekarang dalam gelap, hubungan
mereka yang sudah kering itu mendadak dipertaruhkan. Ekspektasi,
perselingkuhan yang tadinya dalam keadaan terang saling didiamkan, dan
lainnya. Apa yang mereka temukan dalam gelapnya Jakarta? Jalan keluar?
Jalan buntu? Titik penghabisan? Adakah cahaya di dalam gelap itu untuk
mereka sekali lagi?
5. Orang Lain
Seorang laki-laki,
pertengahan 30-an, sedang menggoyangkan gelas alkoholnya di meja bar
sebuah pub kecil. Lalu dia tersenyum tipis mencelupkan cincin kawinnya
ke dalam gelas. Dari gelas itu dia melihat ada perempuan cantik awal
20-an mendekat. Perempuan itu membuka percakapan, Istri anda selingkuh
dengan pacar saya. Lantas, selanjutnya mereka berdua menyisiri malam
Jakarta.
Mempertanyakan siapa yang telah menjadi orang lain dalam
hubungan yang cedera itu. Mereka atau pasangan mereka yang berselingkuh?
Menjelang subuh mereka pun mencoba memutuskan itu semua
6. Darling Fatimah
Di
Pasar Senen, seorang perempuan janda keturunan Pakistan bermulut bawel
sedang melayani para pembelinya. Cantik di usia 40-an-nya. Lantas datang
pemuda keturunan Tionghoa 20-an, seorang broker pemesanan kue. Keduanya
lalu bertengkar. Dengan lontaran kosa kata yang akan terasa kasar bagi
telinga Jakarta yang lebih sopan. Tapi yang mereka bicarakan kehangatan
cinta.
Sebab keduanya sedang membahas hubungan mereka. Mulai dari
cemburu, keinginan kuat menikah, bagaimana menangani calon ipar dan
lainnya. Sampai pada satu titik, keputusan akan diambil. Benarkan memang
ada hati penuh bunga cinta di kasarnya Jakarta?
Enam cerita ini
akan mencoba mengeksplorasi pertanyaan awal tadi. Semoga dengan film
ini kita akan lebih bisa meraba hati kota ini.
Dan akhirnya, hati bangsa ini. Dengan hati kita sendiri.